Temu & Pisah

Tentang Bertemu..
Tentang Berpisah..

Awal aku lahir.
Awal aku mendengar.
Awal aku melihat.
Awal aku mengingat.
Awal pertemuanku dengan dunia.
Dengan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Dengan siang dan malam.
Dengan tukang dagang yang melintas di depan rumah.
Dengan film kartun dan film kepahlawanan.
Dengan rumah yang selalu ditempeli poster.
Dengan tawa dan tangis.

Awal adalah waktu..
Untuk mengenal, beradaptasi, berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Akhir pun waktu..
Waktu agar bisa mengawali kembali.
Waktu agar bisa mengenal, beradaptasi, berkembang menjadi lebih baik lagi.

Awal adalah pertemuan, Akhir adalah perpisahan
Dan ini semua tentang waktu

Syarat perpisahan adalah pertemuan, dan syarat pertemuan adalah perpisahan..
ya.. seperti itu.
Pertemuan dan perpisahan berkaitan tak terpisah
Sesuatu yang pasti dan menjadi sebuah syarat yang terkopel.

Bayi dilahirkan | Tua meninggal
Sekolah dimulai | Lulus sekolah
Diterima kerja | Keluar kerja
Bertemu teman baru | berpisah teman lama
Membeli mobil baru | menjual mobil lama
Bertemu kembali | berpisah kembali
Saat ini | tadi

Tidak ada yang aneh memang. Semua adalah wajar dan biasa.
Hanya saja perasaan yang membawa larut dalam kebahagiaan pertemuan dan kesedihan perpisahan.
Ataukah sebaliknya.. Perasaan benci bertemu dan senang berpisah.

iya.. perasaan adalah sumber dari sikap.
Sikap terhadap pertemuan, sikap terhadap perpisahan.
Perasaan ini mengisi diantara jarak antara pertemuan dan perpisahan.
Perasaan ini adalah kuasa untuk mengendalikan hati dalam menghadapi pertemuan dan perpisahan yang mutlak.

Lalu..
Perasaan seperti apa yang dipersiapkan dalam perpisahan dengan kehidupan?
Perasaan seperti apa yang dipersiapkan dalam menyambut pertemuan kehidupan selanjutnya?

Waktu untuk persiapan masih ada, tapi akan terus berjalan.

Harap

Cinta

Rindu ini tumbuh di setiap pagi

Berharap  temu untuk berbagi

Bercerita dalam sembunyi

Bercengkrama dalam sunyi

Hanya dengannya

Hanya dirinya

Hanya untuknya

 

Inikah cinta?

lalu.. cinta seperti apa yang pantas diberikan bagi Pencipta Cinta?

Cinta terhebat, Cinta terbaik, Cinta terluas

Tuhan, ajari hamba Mu belajar mencintai Mu..

 

Maret 2014 – Bandung

Partikel Jarak

 

Teman lama yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu itu tiba-tiba berdiri di hadapanku. Melihat ke arahku dengan senyum yang sedikit ragu, mungkin pikirannya sedang mengambil memori wajah ku yang tidak banyak berubah.

“Boy?”

Panggilan dia padaku kubalas dengan senyuman dan uluran tangan padanya. Setelah itu, kami berbincang umumnya orang yang sudah lama tak jumpa. Bertanya kabar, kesibukan, orang-orang sekitar sekarang dan dulu, dan segala penggalan kisah yang terputus selama kami tidak jumpa.

Dia bercerita tentang pengalamannya berkeliling dunia. Tentang perang irak, perbatasan korea, olimpiade inggris, dan segala hal tentang amerika dan eropa. Aku terpana mendengar cerita dari orang yang pernah mengalami begitu banyak hal yang aku lihat di televisi.

Aku sendiri bercerita. Ceritaku tak beranjak tentang jalan ini. Tentang sekolah sd, smp, dan sma yayasan yang digabung dalam satu area di pinggir jalan beberapa puluh meter dari rumahku. Tentang pasar di depan sekolah, Tentang tempat kerjaku yang tak jauh dari sekolah itu.

Pilihan Hidup

2005

Pagi itu sabuga penuh oleh ribuan yang membawa map. Seperti kebiasaan tiap tahunnya, hari itu memang menjadi hari pengembalian formulir bagi peserta SPMB. Kami berempat menjadi bagian dari orang-orang yang membawa map tersebut. Saya, feri, ajay dan dwi.

Kami baru saja memarkirkan kendaraan kami. Ketika sedang memeriksa kelengkapan formulir lagi, tiba-tiba saja feri bertanya-tanya tentang pilihan-pilihan perguruan tinggi yang diambil.

“Jek. Kamu ngambil jurusan apa aja?”

“Pilihan satu teknik fisika ITB, pilihan duanya fisika Unpad.”

“Saya pilihan tiga nya belum diisi. Saya samain aja lah sama pilihan ke dua kamu.”

“Beneran mau disamain?”

“Beneran. Bingung soalnya. Sini saya nyontek kodenya.”

Tiba-tiba Dwi juga memutuskan hal yang sama. Mencontek kode pilihan ke dua saya sebagai pilihan di dalam formulirnya.

Dalam hati saya sedikit bingung, bagaimana mungkin masa depan teman saya mereka pilih dengan cara mencontek. Sungguh keputusan yang aneh saya pikir.

***

6 Agustus 2005

Hari masih gelap, namun saya sudah memacu sepeda motor untuk mencari tukang koran. Ya, tengah malam tadi pengumuman kelulusan SPMB telah diumumkan setelah sebelumnya diundur satu hari.

Saya lihat kolom yang berjudul “84.443 peserta SPMB diterima di 51 PTN”. Nomor peserta saya bukanlah urutan awal, saya ikuti sambungan kolomnya. Di halaman tengah koran saya menemukan nomor ujian dan nama saya terpampang. Tepat di bawah nama saya terpampang nama Dwi. Kami memang memiliki nomor ujian yang berurutan. Saya lihat kode jurusan, ternyata kami berdua memiliki kode jurusan yang sama. Sudah dapat ditebak, hanya pilihan dua kami yang sama. Tak lama berselang, saya mendapat kabar dari feri. Dia lulus pilihan ketiga.

Dua teman saya lulus SPMB pada pilihan hasil mencontek ke saya… Sebuah hal yang luar biasa, atau mungkin konyol lebih tepatnya. Hahaha

SALAH NOMOR

Saya sempat ikut dalam sebuah organisasi jurnalistik kampus. Ketika baru masuk dalam organisasi itu, seluruh anggota barunya ditunjuk untuk menjadi panitia pelatihan jurnalistik dimana nantinya para anggota baru itu harus menjadi peserta pelatihan itu juga. Saya ditunjuk menjadi saeorang sekretaris umum atau biasa disingkat sekum. Sebenarnya saya tidak mengerti apa tugas sekum. Jangankan tugasnya, untuk konsep acaranya saja saya masih kebingungan.

“Gimana ceritanya peserta acara pelatihan tuh panitianya?” itulah ungkapan kebingungan yang sering terlontar dari saya. Atau kadang terlontar “Gimana ceritanya panitia acara pelatihan jadi pesertanya?”. Tapi tidak pernah terlontar kata-kata “Gimana panitianya cerita peserta jadi acara pelatihan?” karena akan membuat saya semakin bingung dan membuat seakan-akan panitianya kurang kerjaan.

Suatu hari beberapa panitia, termasuk saya,  sedang berkumpul di kediaman ketua pelaksana, dwi, dalam rangka persiapan berbagai hal yang dibutuhkan acara.

“Jek, Kamu hubungin pembicara buat pelatihan.” Pinta Dwi pada saya.

“Loh, itu kan tugasnya acara” kata saya hendak menolak.

“Anak acaranya lagi sibuk buat tekdet. Pokoknya ini hape nya, pake hapenya si Adit. Ini nomornya. Ga ada yang sempet ngehubungin pembicara nih.” kata Dwi.

“Oke lah, saya hubungi. Siapa namanya?”

“Teh Dini, dia anak komunikasi angkatan di atas kita.”

“Trus ngomongnya gimana?”

“Ya Tanya. Bisa jadi pembicara enggak. Hari Minggu ini jam 10 di gedung dekanat.”

Akhirnya saya hubungi calon pembicara itu menggunakan handphone nya adit. Saya hubungi nomor yang sudah ditunjukkan dwi.

Tuuuut. . .

Tuuuut. . .

Tuuuut. . .

Telepon dijawab. Bukan oleh suara tokek. Bukan pula oleh suara lolongan anjing. Tapi oleh suara perempuan.

“Halo!” Kata suara perempuan itu.

Lalu dengan mengeluarkan segala kesopanan dan keseganan dimulailah percakapan sebuah penawaran kerjasama antara panitia pelatihan dengan calon pembicara.

“Assalamualaikum” saya memulai pembicaraan.

“Waalaikum salam” Kata si perempuan di ujung telepon sana.

“Maaf teh. Saya ngeganggu enggak?” tanya saya, takutnya beliau sedang kuliah atau terjun payung atau kegiatan lain yang kiranya akan terganggu kalau sambil nelepon.

“Engga. Ada apa ya?” si suara perempuan balik Tanya.

“Ini dengan teh Dini bukan?”

“Iya betul.”

“Teteh bisa enggak jadi pembicara pelatihan hari minggu jam 10”

“Pelatihan apa?”

“Pelatihan Jurnalistik teh”

“Hah?? Kenapa harus saya?” Tanya Teh Dini heran. Keheranan teh Dini membuat saya juga heran. Orang yang direkomendasiin jadi pembicara kenapa merasa heran diminta jadi pembicara.

“Loh… Kita dapet informasi katanya teh Dini bisa jadi pembicara teh”

“Informasi dari siapa?”

“Ya ada lah teh, dari senior kami.”

“Kenapa harus saya ya? Saya ga bisa kalau jadi pembicara.” Saya semakin bingung dengan jawaban-jawaban dari teh Dini. Dia itu sedang merendah atau memang benar Dwi salah dapet rekomendasi orang.

“Emang kenapa gak bisanya teh?”

“Yaa.. memang gak bisa. Ini dengan siapa ya?”

“Saya Jek, teh.”

“Jek Fisika 2005??”

“Iya teh. Kok tahu???” Saya bingung dia bisa tahu jurusan dan angkatan saya, padahal saya masih berstatus mahasiswa tingkat awal. Apa saya seterkenal itu di dunia luar? Atau saya pernah kenal sama calon pembicara ini tapi sayanya lupa. . .

“Ya tahu lah.”

“Tahu dari mana teh?”

“Kita kan seangkatan jek.”

“seangkatan?”

“iyaa. . . Ini Dini fisika 2005 jek.”

“oooh gituu!!?!?”

Dengan sigap dan reflek yang sangat cepat, saya langsung menutup telepon dan berteriak “Ediiiinn!! Itu dini temen angkatan kita!!!!!” sambil melempar hape ke atas kasur.

“HWAHAHAHAHAHA!!!!” Seluruh kru dan personel yang bertugas di kostan Dwi langsung ketawa. Semuanya ribut kecuali si Syahrul. Dia hanya diam melongo tak berdaya.

5 menit kemudian Syahrul baru tertawa terpingkal-pingkal. . . . Sendirian.

 

***

4 tahun kemudian..

Kali ini saya kali ini hendak mengontak Dini Fisika 2005, bukan Dini sang pembicara. Hendak bertanya hal ihwal referensi tugas lewat sms.

“Din,. Referensi kemarin gimana cara bukanya?”

lalu dini membalas sms saya

“referensi apaan jak?”

loh?? kok nanya? referensi apalagi coba. padahal baru kemarin dan masih hangat-hangatnya tentang skripsi.

“referensi fisika yang dari pak irwan (nama dosen) yang kemarin.”

“hah?? ari jaka ngalindur?..”

“Hhahaa.. bisa jadi. Kenapa gitu?”

“Ini Dini KKN jak. HHahaa.”

“oh.. Hhahaa. maaf2. Berarti saya emang ngelindur.”

Yes.. salah lagi atas nama Dini. Padahal di hp sudah jelas namanya Dini Fisika05. Sejak kapan saya salah save nomor??

Teruntuk dini sedunia. Mari kita berdamai. Cukuplah kesalahpahaman ini kita sudahi sampai disini..
HHeee

Kosong

Di sepi ini, aku ditemani lagu Pure Saturday – kosong.

 

Coba untuk ulangi

Apa yang terjadi

Harapkan datang lagi

Semua yang telah terlalui

 

Pikiranku menerawang ke belakang, ke balik memori yang takkan usang. Menggambarkan kebersamaan yang terkenang. Saat kita baru saling mengenal, lalu kita berjuang bersama mencoba menggapai kemenangan, dan semua kita lakukan dalam kesenangan. Sesuatu yang selalu kukenang adalah segala tangis selalu berakhir tawa. Inginku kembali ke masa itu. Bisakah?

 

Bersama alam menempuh malam

Walau tak pernah ada kesempatan

Terjebak dalam jerat mengikat

Namun tekad nyatakan bebas

 

Temukan diri dalam dunia

Tak terkira

Semua mati dan menghilang

 

Kutemukan diriku dalam kesendirian. Dan kusadari bahwa hidup ini hanyalah tentangku yang menjelajah waktu. Tentang masa lalu yang pasti berakhir. Tentang diri mereka yang berpikir untuk diri mereka. Lalu untuk apa kebersamaan jika sebenarnya semua hanya tentang kesendirian?

 

Terlalu pagi

Temukan arti

 

Aku masih mencari

Jalan panjang semakin lapang

Hanya dahan kering yang terpanggang

Tak ada teman

Telah terpencar

Namun waktu terus berputar

 

Setiap jiwa memiliki cita yang tak pernah sama. Kutemukan pesta, kulihat karnaval, kuperoleh mimpi. Namun segalanya telah sepi karena sendiri. Sedangkan hidup tak pernah menunggu, tetap mengalir. Haruskah ku menunggu berkumpul?

 

Peduli apa terjadi

Terus berlari tak terhenti

Untuk raih harapan

Di dalam tangis atau tawa

 

Temukan diri dalam dunia

Tak terkira

Tak berarti tak akan pasti

 

Aku percaya harapan masih menyala. Segala kesendirian ini adalah untuk membuat kita tertawa pada akhirnya, membuat kita bersama, membuat kita bertemu lagi kelak. Dikehidupan ini maupun kehidupan selanjutnya. Bukankah selama ini apa yang kita lakukan selalu di luar logika?

 

Terlalu gelap

Pergilah pulang

 

Aku masih mencari

 

Teruntuk semua orang yang pernah mengisi kehidupanku. Tanpa kalian, aku merasa kosong.

12-09-2011

(Nb : Kata-kata miring adalah lirik lagu Pure Saturday – Kosong)

 

Membunuh Penasaran

“Aku penasaran.”

Seorang kakek di hadapanku menatapku dari balik kacamata tebalnya. Duduk di atas kursi merahnya dengan rokok terjepit diantara telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Wajahnya masih menyorotkan ketegasan dan ketangguhan sisa-sisa perjuangan merebut kemerdekaan.

“Aku penasaran.” Kataku lagi

Kakek itu  menghisap rokoknya sangat dalam. Lalu menghembuskan asapnya ke arah atas. Kulihat filter rokoknya basah.

“Aku penasaran oleh penasaran.  Oleh artinya, oleh rasanya, oleh letaknya, oleh baunya, oleh bentuknya, oleh segalanya.”

Kali ini kakek di depanku itu mengarahkan pandangannya ke ruang kosong di depannya. Aku yang duduk sedikit menyerong di sebelah kanannya tampak kurang diperhatikan.

“Jika masuk restoran, aku biasanya memesan makanan yang beda dari orang lain. Dengan harapan aku bisa mencicipi jenis masakan yang orang lain pesan. Aku juga selalu mengejar untuk memakan es krim di setiap resepsi pernikahan yang aku temui. Hanya sekedar ingin tahu bagaimana rasanya. Walau sebenarnya aku sudah tahu akan bagaimana rasanya. Tapi aku selalu mengharapkan rasa baru yang mengejutkan.”

Kakek itu masih memandang ke depan. Seakan sedang memandang masa lalunya. Memandang masa-masa perang, memandang masa kemerdekaan, memandang perjuangan teman-temannya, memandang kegetiran melawan penjajah.

“Dalam perjalanan rutinku ke tempat belajar, atau ke tempat bekerja, atau ke tempat bermain, atau ke tempat lainnya, terkadang aku mencari jalan lain. Jalan alternatif yang kuharapkan bisa sebagai jalan memotong untuk mempersingkat waktu. Walaupun hasilnya aku lebih sering tersesat.”

Kakek di depanku terbatuk-batuk. Lalu membuang dahaknya ke dalam tempat sampah di samping kaki kirinya. Lalu menghisap rokoknya lagi. Kulihat abu rokoknya sudah memanjang. Masih menempel di rokoknya.

“Aku rasa itu adalah beberapa caraku untuk membunuh penasaran. Terkadang aku dengan mudahnya membayar lebih untuk membunuh penasaran itu. Walau setelah itu aku tahu seharusnya harganya tidak semahal yang aku bayar, tetapi aku tidak menghiraukannya jika memang penasaranku hilang.”

Malam di kota pesisir pantai ini begitu sejuk. Anak-anak bermain kembang api dan air mancur di bawah pohon mangga di halaman. Terkesan oleh keindahannya, lalu berteriak gembira saat apinya habis. Kakek di hadapanku sudah menghisap batang rokok yang baru.

“Aku tahu. Membunuh penasaran membuatku mendapatkan pengalaman. Ya, itulah yang selalu kunikmati, pengalaman baru dalam hidup. Bukankah aku harus mencari pengalaman dan pengetahuan dari aku lahir hingga aku masuk liang lahat? Lalu aku bisa menceritakannya pada generasi setelahku, semoga bisa dengan bijak.”

Kakek di depanku terbatuk lagi, membuang dahaknya lagi. Lalu menghisap rokoknya lagi sambil tetap menatap ruang kosong di depannya.

“Aku penasaran dengan surga. Aku ingin tinggal disana. Jika aku tidak pantas tinggal disana, tunjukanlah jalannya agar aku bisa menjadi orang yang pantas tinggal disana. Bimbing aku menyelesaikan tugasku.”

Kakek di depanku kini memandangku. Dia melihatku dari ujung kaki hingga kepala. Ketika mata kami saling bertemu, dia tersenyum padaku.

Bandung, 14 Agustus 2011